Senin, 21 Februari 2011

Keuntungan Perdagangan

PENDAHULUAN
Keuntungan diperoleh suatu Negara dari aktivitas perdagangan, yang berarti berkaitan dengan kegiatan ekspor dan impor. Perdagangan (ekspor dan impor) seharusnya memberikan keuntungan bagi seluruh Negara yang terlibat di dalamnya. Konsep keunggulan komparatif dan keuntungan perdagangan internasional secara sederhana, yang melibatkan dua Negara dengan dua jenis komoditas yang diperdagangkan. Namun hampir keseluruhan bab ini membahas satu komoditas dan dua Negara, sebagai asumsi dari model yang di pakai untuk analisis perdagangan produk pertanian. Kasus dengan satu jenis komoditas lebih umum dan lebih mudah digunakan dalam analisis kebijakan perdagangan produk pertanian dari pada kasus dengan dua jenis komoditas.

ISI
Keunggulan Komperatif Sederhana
Indonesia Malaysia
Beras Gula Beras Gula
120 0 40 0
80 10 20 10
40 20 10 15
0 30 0 20
Tabel 2.1 Kemampuan Produksi Philipina dan Indonesia
Berdasarkan pola perdagangan antara Indonesia dan Philipina diasumsikan ada dua jenis komoditas perekonomian, yaitu beras dan gula. Kedua jenis komoditas tersebut memerlukan input yang sama, meliputi lahan, tenaga kerja, modal, dll. Juga diasumsikan adanya fixed supply di setiap Negara. Fungsi produk Indonesia adalah bahwa bila semua input digunakan untuk memproduksi beras maka 120 unit beras akan diperoleh, sementara di Philipina, 40 unit beras akan diperoleh jika semua input digunakan untuk memproduksi beras. Jika Indonesia dan Philipina menggunakan seluruh sumberdayanya untuk memproduksi gula, maka masing-masing Negara akan memproduksi 30 unit dan 20 unit. Table 2.1 menampilkan kemungkinan produksi setiap Negara bila seluruh sumberdaya yang tersedia digunakan.
Terlihat bahwa Indonesia dapat memproduksi lebih banyak beras dan gula daripada Philipina karena Indonesia memiliki lebih banyak sumberdaya. Indonesia memiliki keunggulan absolute dalam memproduksi beras dan gula. Keunggulan absolute sangat tidak relevan bagi perdagangan internasional karena hanya memberikan indikasi ukuran suatu Negara sebagai Negara kecil/besar atau total sumberdaya alam yang dimiliki. Selain fakta bahwa Indonesia memiliki keunggulan absolute untuk kedua jenis komoditas, kedua Negara tetap mendapatkan keuntungan dari perdagangan karena tingkat transformasi produk marginal (marginal rates of product transformation) yang menunjukan banyaknya produk tertentu yang harus dikorbankan untuk memproduksi produk lainnya bervariasi untuk kedua komoditas tersebut. Indonesia harus mengurangi 4 unit beras untuk meningkatkan produksi satu unit gula, sementara Philipina harus mengurangi 2 unit beras untuk meningkatkan satu unit gula. Hal ini memberikan Philipina suatu keunggulan komparatif dalam produksi gula karena sumberdayanya memiliki opportunity cost (dalam hal beras) lebih rendah untuk komoditas gula daripada Indonesia. Opportunity cost untuk beras lebih rendah di Indonesia. Perbedaan opportunity cost inilah yang dapat membuat kedua Negara memperoleh keuntungan dari perdagangan.
Keuntungan Perdagangan Dua Komoditas
Untuk Indonesia dengan dua komoditas gula dan beras, dalam hal ini diasumsikan bahwa terdapat persaingan sempurna, tidak ada tarif atau pajak, tidak ada biaya transportasi dan Negara skala kecil. Jika perdagangan dilakukan dan tidak ada hambatan perdagangan, batasan konsumsi di Indonesia sepanjang BKP (batas kemungkinan produksi) yang dimiliki tidak lagi berlaku, karena adanya impor dan ekspor. Segmen garis PP tidak relevan lagi karena Indonesia dapat berdagang pada harga relative dunia yang jauh berbeda bila dibandingkan dengan PP yang lain. Jika Indonesia adalah Negara kecil maka ia bias membeli atau menjual berapapun jumlah komoditas yang diinginkan tanpa mempengaruhi harga dunia (asumsi yang berlaku), dan harga relatif dunia (atau terms of trade) untuk komoditas beras lebih tinggi daripada harga relative Indonesia tanpa perdagangan, sehingga Indonesia akan mengekspor beras dan mengimpor gula.
Ekuilibrium Parsial untuk Satu Komoditas
Hampir seluruh buku ekonomi internasional memusatkan perhatian pada model dengan dua komoditas dan pasar dari factor produksi (seperti tenaga kerja dan modal) karena tertarik untuk mengamati pengaruh perdagangan terhadap pendapatan yang diperoleh atas penggunaan factor produksi tersebut. Para ahli ekonomi cenderung terfokus pada pasar output dan investigasi pada isu-isu perdagangan internasional yang berdampak pada pola perdagangan itu sendiri. Seringkali analisis mengenai pola perdagangan lebih mudah dibayangkan sebagai bagian dari model ekuilibrium (analisis penawaran dan permintaan) dengan satu komoditas dan banyak Negara. Ekuilibrium ini bersifat parsial Karena hanya mencakup harga barang tertentu sementara harga barang lain dianggap konstan. Model ini merupakan sarana yang sangat tepat untuk menunjukkan bagaimana perubahan variable mempengaruhi ekuilibrium suatu barang. Ketika perdagangan itu terjadi, batasan bahwa penawaran domestic sama dengan permintaan domestic menjadi tidak berlaku. Negara akan memperoleh surplus produksi atau mengonsumsi lebih dari yang mampu diproduksi sepanjang melakukan perdagangan internasional. Sebagai catatan, jika suatu Negara mengimpor satu jenis komoditas maka Negara tersebut harus mengekspor paling tidak satu jenis komoditas untuk menjaga keseimbangan perdagangannya.
Saat perdagangan dibuka, produsen beras mendapat keuntungan yang merupakan kompensasi dari kerugian yang dialami konsumen atas harga beras yang tinggi dan akan menjadi keuntungan bersih bagi para produsen beras. Hal ini jarang terjadi sebab terdapat banyak sekali produk Negara lain yang diperdagangkan sehingga Negara yang bersangkutan akan mengimpor produk tersebut dari Negara lain, dan pada akhirnya para konsumen akan mendapatkan keuntungan.
Pasar Dunia dan Negara Besar
Analisis tentang Negara skala kecil dengan satu komoditas mengansumsikan bahwa pasar dunia berfungsi dengan baik di dalam menentukan harga dan Negara kecil tersebut menggunakan harga pasar dunia untuk menentukan berapa banyak barang yang harus diproduksi dan dikonsumsi. Jika terdapat persaingan sempurna di seluruh dunia dan tidak ada eksternalitas, hambatan perdagangan dan juga biaya transportasi, harga di pasar dunia akan menjadi nilai yang sebenarnya bagi komoditas tersebut. Harga akan mencerminkan biaya produksi barang dan nilai barang yang dikonsumsi. Berdasarkan asumsi ini, ekuilibrium di pasar dunia terjadi ketika penjumlahan horizontal dari semua kurva penawaran domestic berpotongan dengan penjumlahan horisontaldari semua kurva permintaan domestic. Hal ini logis karena harga di pasar dunia akan terjadi bila penawaran di pasar dunia (atau biaya marjinal) sama dengan permintaan pasar dunia (atau nilai marjinal).
Biaya Transportasi
Bila asumsi biaya transportasi adalah nol sehingga biaya lain tidak ada maka harga dunia yang riil sesuai dengan harga dunia yang terjadi. Misalnya pada kasus beras di pasar dunia, tidak ada sesuatu hal yang mengubah harga tersebut. Walaupun terdapat banyak sekali harga beras yang berlaku di berbagai lokasi di dunia, biaya transportasi mencerminkan harga dari daerah produksi ke daerah konsumsi secara regional. Secara sederhana, analisis tentang kasus dua Negara dengan satu komoditas akan menimbulkan dua harga, yaitu harga di Negara pengekspor dan harga di Negara pengimpor di mana biaya transportasi per unit dari Negara pengekspor ke Negara pengimpor adalah konstan.
Karena diasumsikan tidak ada biaya transaksi (termasuk hambatan dalam perdagangan), arbitrase akan menjamin bahwa selisih harga antara Negara pengekspor dan Negara pengimpor tidak akan lebih besar daripada biaya transportasi. Jika tidak, para pedagang kan memperoleh keuntungan yang positif dengan membeli beras di Negara pengekspor dan menjual beras di Negara pengimpor.
PENUTUP
 Keuntungan perdagangan diperoleh suatu Negara karena mereka berkonsentrasi untuk memproduksi komoditas yang relative efisien dan melakukan perdagangan untuk komoditas yang diproduksi secara tidak efisien.
 Dengan batas kemungkinan produksi yang cekung maka akan terdapat spesialisasi yang tidak sempurna oleh suatu Negara. Mererka akan memproduksi beberapa kuantitas untuk masing-masing komoditas. Keuntungan perdagangan diukur melalui kenaikan konsumsi pada salah satu komoditas yang diperdagangkan.
 Suatu negara akan mengekspor suatu komoditas karena harga di pasar dunia lebih tinggi dari harga autarki Negara yang bersangkutan. Melalui ekspor, Negara akan mendapatkan keuntungan karena para produsen mendapatkan tambahan surplus yang lebih tinggi dibandingkan kehilangan surplus yang dialami konsumen. Suatu Negara akan mengimpor suatu komoditas karena harga di pasar dunia berada di bawah harga autarki Negara tersebut. Melalui impor, Negara akan memperoleh keuntungan karena konsumen mendapatkan tambahan surplus lebih tinggi disbanding kehilangan yang dialami produsen.
 Kurva akses penawaran dan permintaan merupakan cara yang paling tepat untuk menggambarkan situasi perdagangan jika Negara tersebut adalah Negara besar. Analisis statis komparatif memungkinkan adanya penjelasan mengenai perubahan harga dunia, perubahan penawaran dan keuntungan perdagangan.
 Pelanggaran terhadap asumsi bahwa biaya transportasi bernilai nol menyebabkan menurunnya perdagangan. Selanjutnya, paling tidak ada dua harga yang berlaku di dunia, harga di Negara pengimpor (yang lebih tinggi) dan harga di Negara pengekspor (yang lebih rendah).

Sumber : Bisnis dan Perdagangan Internasional/ Ratna Anindita & Michael R. Reed; - Ed. I . – Yogyakarta: ANDI,

1 komentar: